Piet Klinik Hewan 24 Jam - (http://pietklinik.com)

17 Juni 2009 - 20:58
Alergi pada Makanan
drh. Nalia Putriyanda

Alergi pada makanan merupakan penyebab yang terhitung hampir 10% dari seluruh kejadian alergi pada anjing dan kucing. Faktor ketiga tertinggi setelah alergi gigitan kutu dan alergi debu. Alergi makanan dapat berefek pada anjing dan kucing baik jantan  maupun betina. Kejadian dapat muncul dari hewan berumur 5 bulan sampai 12 tahun tetapi kejadian paling besar muncul pada umur antara 2 sampai 6 tahun.  


Alergi makanan dan intoleran makanan mirip tapi berbeda, perbedaannya adalah sebagai berikut. Alergi menunjukan gejala khas pada kulit dan adanya gatal. Sedangkan intoleran makanan dapat menunjukan gejala diare, muntah dan tidak menunjukan gejala khas alergi seperti merah-merah dan gatal pada kulit. Kedua kejadian ini sama-sama dapat disembuhkan dengan  pemberian makanan yang bebas dari faktor penyebab.


Makanan yang paling sering menyebabkan terjadinya alergi pada anjing adalah daging sapi, produk dari susu, ayam, gandum, telur ayam, jagung dan kedelai. Sebagian besar bahan ini merupakan komposisi pada Dog Food. Kemunculan kejadian alergi dapat disebabkan karena jumlah paparan. Pemberian diet khusus yang terbuat dari bahan dasar daging domba dan beras (Lamb and Rice) dapat menurunkan kejadian alergi karena sumber makanan ini jarang dimakan sebelumya sehingga faktor alergennya masih sangat rendah.

 

Gejala yang muncul pada kejadian alergi makanan pada umumnya sama seperti kebanyakan alergi lainnya. Gejala utamanya adalah adanya gatal-gatal pada kulit. Gejala lainnya adalah adanya infeksi telinga yang kronis atau berulang, kerontokan bulu, hewan menggaruk-garuk yang berlebihan dan tidak terpengaruh saat diberikan antihistamin serta adanya infeksi pada kulit yang sembuh saat diberikan antibiotik tetapi berulang jika antibiotik telah dihentikan.


Sulit untuk menentukan seekor hewan menderita alergi pada makanan sehingga diperlukan proses diagnosa yang agak panjang. Banyak penyebab lain yang mempunyai gejala yang sangat mirip dengan kejadian alergi makanan. Penyebab lain tersebut diantaranya alergi gigitan pinjal, hipersensitif terhadap parasit pencernaan, jamur dan infeksi bakteri. Diagnosa dapat dilakukan dengan mencoba berbagai makanan untuk memastikan apakah yang menyebabkan kejadian alergi. Mencoba salah satu makanan tertentu selama 12 minggu dan melihat apakah gejala alergi hilang. Untuk memastikan setelah 12 minggu hewan dapat kembali dicoba pada makanan lain untuk melihat apakah timbul kembali gejala alergi. Jika timbul gejala alergi maka dapat dilihat komposisi yang ada pada makanan tersebut yang diduga menimbulkan alergi.


Penggunaan diet makanan yang terbuat dari nasi dan daging domba (lamb and rice) dapat menurunakn resiko terjadinya alergi pada makanan tetapi ini hanya mengurangi saja, solusi sebenarnya adalah dengan menghilangkan alergennya sendiri. Terapi hanya dapat dilakukan dengan penggantian makanan yang dapat dipilih oleh pemilik yaitu makanan komersil atau makanan yang dibuat sendiri. Jika pemilik memilih untuk makanan yang dibuat sendiri pemilik sebaiknya melakukan perubahan komposisi makanan secara berkala untuk mengetahui secara pasti penyebab alergi. Contohnya adalah jika hewan biasa makan dengan komposisi daging ayam dan kentang dan selama itu tidak menimbulkan alergi, maka dapat dicoba ditambahkan daging sapi selama 2 minggu jika juga tidak menimbulkan alergi dapat dicoba kembali dengan daging bebek selama 2 minggu. Terus lakukan penambahan bahan makanan yang berbeda, jika didapati adanya reaksi alergi maka dapat diketahui alergennya dan selamanya dihindari bahan makanan tersebut.





 




 

 

[Piet Klinik Hewan 24 Jam]

Kembali